Senin, 20 Juni 2011

EVALUASI 5 Tahun PROGRAM Rintisan Sekolah Bertandart Internasional di SURABAYA

Nama : Maryanah
NRP : 3608100017


EVALUASI 5 Tahun PROGRAM Rintisan Sekolah Bertandart Internasional di SURABAYA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sekarang ini banyak sekali orang tua siswa yang mengingginkan pendidikan yang terbaik buat anaknya. Karena pendidikan yang baik merupakan  jaminan  masa depan yang cerah yang diinginkan. Bukan sekedar sekolah yang biasa – biasa saja tetapi sekolah yang  memberikan fasilitas serta jaminan mutu pendidikan yang baik. Biasanya sekolah yang menjamin mutu pendidikan yang baik adalah sekolah – sekolahan  swasta, maka dari itu peminat dari sekolah negripun cenderung lebih sedikit. Maka dari itu pemerintah membuat program yang dimana peningkatan mutu pendidikan yang baik yang akan menjamin pendidikan yang baik bagi murid – murid.  Program Rintisan Sekolah Berstandart Internasional (RSBI) bertujuan untuk memudahkan siswa-siswi yang akan melanjutkan studinya ke luar negeri serta peningkatan mutu pendidikan yang baik dan yang terjamin.
Namun semenjak bergulirnya program Rintisan Sekolah Berstandart Internasional (RSBI) ini dijalankan, belum tercapai apa yang ingin dicapai belum terlaksana dengan baik. Bahkan keberadaan sekolah Berstandart Internasional yang diharapkan bisa menaikkan mutu pendidikan dengan biaya yang terjangkan malah disalah artikan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Keberadaan rintisan sekolah berstandar internasional yang mendapatkan subsidi dari pemerintah seharusnya tidak memunggut biaya dari siswa – siswi, malah meminta biaya pendidikan yang sangat tinggi.
Maka dari itu evaluasi terhadap program Rintisan Sekolah Berstandart Internasional (RSBI) perlu dilakukan. Agar dapat mengetahui keberhasilan serta keefektivan dari program pemerintah ini yaitu program Rintisan Sekolah Berstandart Internasional.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penulisan evaluasi ini adalah pentingnya evaluasi ex pose Program Rintisan Sekolah Berstandar Internasional di Surabaya. Adapun Rumusan permasalahannya adalah
1.      Kriteria apa saja yang digunakan untuk mengevaluasi Program Rintisan Sekolah Berstandart Internasional di Surabaya?
2.      Bagaimana tingkat keberhasilan Program Rintisan Sekolah Berstandart Internasional di Surabaya berdasarkan kriteria evaluasi yang telah ditentukan?

1.3 Tujuan dan Sasaran
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah untuk mengevaluasi keberhasilan program Rintisan Sekolah Berstandart Internasional Surabaya. Sedangkan sasaran dari penyusunan makalah ini adalah untuk :
1.      Tersusunnya kriteria evaluasi program Rintisan Sekolah Berstandart Internasional Surabaya.
2.      Mengetahui tingkat keberhasilan program Rintisan Sekolah Berstandart Internasional Surabaya berdasarkan kriteria yang telah disusun.
 

BAB II
METODE DAN PENDEKATAN

Dalam mengevaluasi implementasi Program Rintisan Sekolah Berstandart Internasional di Surabaya ini menggunakan pendekatan evaluasi keputusan teoritis yang dilakukan pada akhir (ex-post) setelah dilaksanakannya program tersebut. Pendekatan ini dilakukan untuk menilai keberhasilan dari pelaksanaan program dengan penilaian berdasarkan kriteria evaluasi.
Pendekatan evaluasi keputusan teoritis merupakan pendekatan evaluasi program/kebijakan yang menggunakan metode-metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan dan valid menangani hasil-hasil program/kebijakan yang secara eksplisit dinilai oleh berbagai macam pendapat pelaku program/kebijakan. Dengan asumsi yang digunakan adalah ukuran penilaian dinilai dari pendapat pelaku program/kebijakan dimana sumber informasi tersebut didapatkan dari hasil di lapangan dan persepsi pelaku program/kebijakan. Dan secara teknik analisis yang digunakan dalam mengevaluasi program Rintisan Sekolah Berstandart Internasional (RSBI) di Surabaya ini adalah teknik delphi
2.1 Teknik dan kriteria
Metode Delphi adalah modifikasi dari teknik brainwriting dan survei. Dalam metode ini, panel digunakan dalam pergerakan komunikasi melalui beberapa kuisioner yang tertuang dalam tulisan. Teknik Delphi dikembangkan pada awal tahun 1950 untuk memperoleh opini ahli. Objek dari metode ini adalah untuk memperoleh konsensus yang paling reliabel dari sebuah grup ahli. Teknik ini diterapkan di berbagai bidang, misalnya untuk teknologi peramalan, analisis kebijakan publik, inovasi pendidikan, program perencanaan dan lain – lain.
Metode Delphi dikembangkan oleh Derlkey dan asosiasinya di Rand Corporation, California pada tahun 1960-an. Metode Delphi merupakan metode yang menyelaraskan proses komunikasi komunikasi suatu grup sehingga dicapai proses yang efektif dalam mendapatkan solusi masalah yang kompleks.
Pendekatan Delphi memiliki tiga grup yang berbeda yaitu : Pembuat keputusan, staf, dan responden. Pembuat keputusan akan bertangungjawab terhadap keluaran dari kajian Delphi. Sebuah grup kerja yang terdiri dari lima sampai sembilan anggota yang tersusun atas staf dan pembuat keputusan, bertugas mengembangkan dan menganalisis semua kuisioner, evaluasi pengumpulan data dan merevisi kuisioner yang diperlukan. Grup staf dipimpin oleh kordinator yang harus memiliki pengalaman dalam desain dan mengerti metode Delphi serta mengenal problem area. Tugas staf kordinator adalah mengontrol staf dalam pengetikan. Mailing kuesioner, membagi dan proses hasil serta pernjadwalan pertemuan. Responden adalah orang yang ahli dalam masalah dan siapa saja yang setuju untuk menjawab kuisioner.
Prosedur Delphi mempunyai ciri – ciri yaitu:
1.      Mengabaikan nama
2.      Iterasi dan feedback yang terkontrol
3.      Respon kelompok secara statistik (Chang, 1993)
Jumlah dari iterasi kuesioner Delphi bisa tiga sampai lima tergantung pada derajat kesesuaian dan jumlah penambahan informasi selama berlaku. Umumnya kuesioner pertama menanyakan kepada individu untuk merespon pertanyaan dalam garis besar. Setiap subsequen kuisioner dibangun berdasarkan respon kuisioner pendahuluan. Proses akan berhenti ketika konsensus mendekati partisipan, atau ketika penggantian informasi cukup berlaku.
Prosedur metode Delphi adalah sebagai berikut :
1.      Mengembangkan pertanyaan Delphi
Ini merupakan kunci proses Delphi. Langkah ini dimulai dengan memformulasikan garis besar pertanyaan oleh pembuatan keputusan. Jika responden tidak mengerti garis besar pertanyaan maka masukan proses adalah sia –sia. Elemen kunci dari langkah ini adalah mengembangkan pertanyaan yang dapat dimengerti oleh responden. Anggota staf harus menginterview pembuat keputusan benar – benar jelas mengenai pertanyaan yang dimaksud dan bagaimana informasi tersebut akan digunakan.
2.      Memilih dan kontak dengan responden
Partisipan sebaiknya diseleksi dengan dasar; secara personal responden mengetahui permasalahan, memiliki informasi yang tepat untuk dibagi, tranformasi untuk melengkapi Delphi dan responden merasa bahwa agregasi pendapat panel responden akan termasuk informasi yang mereka nilai dan mereka tidak mengakses dengan cara lain. Seleksi aktual dari responden umumnya menyelesaikan melalui penggunaan proses nominasi.
3.      Memilih ukuran contoh
Ukuran panel responden bervariasi dengan kelompok yang homogen dengan 10 – 15 partisipan mungkin cukup. Akan tetapi dalam sebuah kasus dimana refrence yang bevariasi diperlukan maka dibutuhkan partisipan yang lebih besar.
4.      Mengembangkan kuisioner dan test 1
Kuisioner pertama dalam Delphi mengikuti partisipan untuk menulis respon pada garis besar masalah. Sampul surat termasuk tujuan, guna dari hasil, perintah dan batas akhir respon.
5.      Analisa kuisioner 1
Analisa kuisioner harus dihasilkan dalam ringkasan yang bersisi bagian – bagian yang diidentifikasi dan komentar dibuat dengan jelas dan dapat dimengerti responden terhadap kuisioner 2. Anggota grup kerja mendokumentasikan masing – masing respon pada kartu indeks, memilih kartu kedalam katagori umum, mengembangkan sebuah konsensus pada label untuk masing – masing katagori dan menyiapkan ringkasan bayangan yang berisi katagori – katagori.
6.      Pengembangan kuisioner dan test 2
Kuisioner kedua dikembangkan menggunakan ringkasan responden dari kuisioner 1. Fokus dari kuisioner ini adalah untuk mengidentifikasikan area yang disetujui dan yang tidak, mendiskusikan dan mengidentifikasi bagian yang diinginkan serta membantu partisipan mengetahui masing – masing posisi dan bergerak menuju pendapat yang akurat, responden diminta untuk memilih pada ringkasan bagian kuisioner 1.
7.      Analisa kuisioner 2
Tugas dari kelompok kerja adalah menghitung jumlah suara masing – masing bagian yang meringkas komentar yang dibuat tentang masing – masing bagian. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk menentukan jika informasi lengkap akan membantu untuk penyelesaian masalah atau paling tidak membuktikan untuk digunakan di berbagai cara.
8.      Menyiapkan laporan akhir

2.2 Kriteria Evaluasi
Di dalam melakukan evaluasi Program Rintisan Sekolah Berstandart Internasional di Surabaya ini digunakan pendekatan evaluasi berdasarkan kriteria evalusi. Menurut Dunn (2000), kriteria evaluasi terbagi menjadi 6 kriteria, yaitu :
·                Efektifitas
Efektifitas berkenaan dengan apakah suatu kebijakan yang dilaksanakan mencapai hasil yang diharapkan. Efektifitas yang berhubungan dengan rasionalitas teknis, selalu diukur dari unit produk atau layanan atau nilai moneternya. Misalnya, kebijakan kesehatan yang efektif adalah kebijakan layanan kesehatan yang lebih bermutu dengan asumsi bahwa kualitas pelayanan kesehatan adalah hasil yang bernilai (tujuan).
·                Efisiensi
Efisiensi berkenaan dengan jumlah usaha yang diperlukan untuk mengha-silkan tingkat usaha tertentu. Efisiensi yang sinonim dengan rasionalitas ekonomi, merupakan hubungan antara efektifitas dan usaha yang umumnya diukur dengan biaya moneter. Efisiensi biasanya ditentukan melalui perhitungan biaya per unit produk atau layanan (misalnya, 50 pemeriksaan medis per $ 1000).
·                Kecukupan
Kecukupan berkenaan dengan seberapa jauh suatu tingkat efektifitas memuaskan kebutuhan, nilai atau kesempatan yang menumbuhkan masalah. Kriteria ini menekankan kuatnya hubungan antara alternatif kebijakan dan hasil yang dicapai. Misalnya kebijakan yang memadai adalah kebijakan yang memaksimalkan pencapaian tujuan dengan biaya tetap yang sama; meminimalkan biaya dalam mencapai tingkat efektifitas yang tetap; biaya berubah efektifitas berubah; biaya sama efektifitas tetap.
·                Kesamaan
Kesamaan berkaitan erat dengan rasionalitas legal dan sosial, dan menunjuk pada distribusi akibat dan usaha antara kelompok yang berbeda dalam masyarakat. Kebijakan yang berorientasi pada perataan adalah kebijakan yang akibatnya (misalnya, unit pelayanan atau manfaat moneter) atau usaha (misalnya, biaya moneter) secara adil didistribusikan. Suatu program tertentu mungkin efektif, efisien dan mencukupi, namun mungkin ditolak karena menghasilkan distribusi biaya dan manfaat yang tidak merata. Hal ini terjadi karena mereka yang membutuhkan tidak menerima pelayanan sesuai dengan jumlah mereka, mereka yang paling tidak mampu membayar dibebani biaya yang tidak proporsional, atau mereka yang paling menerima manfaat tidak membayar ongkos. Pertanyaan yang sering muncul adalah seberapa jauh suatu kebijakan dapat memaksimalkan kesejahteraan sosial, dan bukan hanya individu atau kelompok tertentu?
·                Responsifitas
Responsifitas berkenaan dengan seberapa jauh suatu kebijakan dapat memuaskan kebutuhan, preferensi atau nilai kelompok masyarakat tertentu. Kriteria ini penting karena analis yang dapat memuaskan semua kriteria lainnya – efektifitas, efisiensi, kecukupan, kesamaan – masih gagal jika belum menanggapi kebutuhan aktual dari kelompok yang semestinya diuntungkan dari adanya suatu kebijakan.
·                Ketepatan
Ketepatan berhubungan erat dengan rasionalitas substansif, karena pertanyaan ketepatan kebijakan tidak berkenaan dengan satu kriteria individu, tetapi dua atau lebih kriteria secara bersama-sama. Ketepatan merujuk pada nilai atau harga dari tujuan program dan kepada kuatnya asumsi yang melandasi tujuan-tujuan tersebut. Kriteria ketepatan mempertanyakan apakah tujuan tersebut tepat untuk suatu masyarakat.
Berdasarkan beberapa kriteria tersebut, adapun pendekatan kriteria evaluasi dalam mengevaluasi  Program Rintisan Sekolah Berstandart Internasional (RSBI) Surabaya adalah sebagai berikut :
1. Efektifitas
2. Efisiensi
3. Responsifitas

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Gambaran Umum
Rintisan Sekolah Berstandart Internasional (RSBI) merupakan program pemerintah yang diberlakukan mulai dari tahun 2005. Rintisan Sekolah Berstandart Internasional (RSBI) di Surabaya merupakan keharusan karena kebijakan dari pemerintah pusat yang dimana setiap satu Kabupaten atau Kota harus mempunyai minimal satu sekolah yang berstandarat internasional.
Surabaya sendiri telah mempunyai 12 RSBI antara lain yaitu :
1.      SMP Negeri 1
2.      SMP Negeri 6
3.      SMA Negeri 2
4.      SMA Negeri 5
5.      SMA Negeri 15
6.      SMK Negeri 1
7.      SMK Negeri 3
8.      SMK Negeri 5
9.      SMK Negeri 6
10.  SMK Negeri 8
11.  SMK Negeri 10
12.  SMK Negeri 11

Tujuan dari program Rintisan Sekolah Berstandart Internasional ini adalah
1.      Untuk menampung siswa – siswi yang berprestasi.
2.      Mempermudah akses melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
3.      Memberikan mutu pendidikan yang terjamin.
4.      Memberikan harga pendidikan yang menunjang karena Sekolah RSBI mendapatkan subsidi dari pemerintah.
3.2 Analisa Evaluasi
Analisa evaluasi dalam program Surabaya Rintisan Sekolah Berstandart Internasional (RSBI) di Surabaya ini menggunakan teknik analisa Delphi. Penggunaan teknik analisa delphi digunakan untuk mencari konsensus diantara para pakar sehingga diketahui keberhasilan kegiatan Rintisan Sekolah Berstandart Internasional Surabaya.
Berdasarkan hasil pengisian kuesioner yang diberikan kepada 3 orang expert yaitu wali murid yang anaknya bersekolah di salah satu RSBI, siswa yang bersekolah di sekolah RSBI, serta pemerintah yang mengetahui proses RSBI, didapatkan tanggapan awal terhadap keberhasilan program RSBI berdasarkan kriteria evaluasi yang telah ditetapkan. Adapun hasil rekapitulasi wawancara tahap awal adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1
Hasil Rekapitulasi Kuisioner Tahap I
1. Efisiensi
indikator
Responden
prosentase
A
B
C
ya
Tidak
Harga / biaya pendidikan yang mahal
Ya
Tidak
Ya
80%
20%

2.Efektifitas
indikator
Responden
prosentase
A
B
C
Ya
Tidak
Kualitas Pengajar
Tidak
Ya
Tidak
20%
80%
Perekrutan murid dari tingkat pendidikan
Tidak
ya
Tidak
20%
80%


3.Responsifitas
           
indikator
Responden
prosentase
A
B
C
Ya
Tidak
Prestasi akademik yang sudah  dihasilkan baik
Tidak
tidak
tidak
0%
100%
Tingkat pendidikan yang sudah telah tercapai baik
tidak
tidak
tidak
0%
100%
Sumber : hasil kuisioner, 2011

Keterangan
Responden A : Wali Murid
Responden B : siswa.
Responden C : anggota pemerintahan.

Berdasarkan hasil rekapitulasi kuisioner pertama didapatkan hasil bahwa dari 5 indikator evaluasi program Rintisan Sekolah Berstandart Internasional, Tidak ada indikator yang menunjukkan tingkat keberhasilan.

Setelah kecenderungan pendapat responden diinterpretasi, maka dilakukan proses iterasi dengan memberi kuiseoner kedua kepada responden yang sama Rekap hasil kuisioner pada tahap kedua dapat dilihat pada tabel 3.2 berikut :

Tabel 3.2
Hasil Rekapitulasi Kuisioner Tahap II
1.      Efisiensi

Indikator
Responden
Prosentase
A
B
C
Ya
Tidak
Mencapai Mutu Pendidikan yang baik
ya
ya
Ya
100%
0%
Mempermudah akses kuliah ke luar negeri
ya
ya
ya
100%
0%

2.      Efektifitas
indikator
Responden
Prosentase
A
B
C
Ya
Tidak
Biaya pendidikan yang murah
tidak
Tidak
ya
20%
80%

3.      Responsivitas
indikator
Responden
Prosentase
A
B
C
Ya
Tidak
Menciptakan sekolah yang bermutu tinggi
ya
Ya
ya
100%
0%
Sumber : hasil kuisioner 2011

Dari hasil rekapitulasi kuisioner tahap dua yang merupakan iterasi dari hasil kuisioner yang pertama terdapat 3 indikator dari 5 indikator yang disetujui 100% oleh seluruh responden bahwa indikator tersebut seharusnya berhasil diterapkan. Karena tujuan dari RSBI adalah sebagai akses mempermudah kuliah ke luar negeri, mencapai mutu pendidikan yang baik, menciptakan sekolah bermutu tinggi.

Adapun lebih jelas mengenai penilaian evaluasi berdasarkan kriteria adalah sebagai berikut :
a.       Efisiensi
Efisiensi dari suatu program seharusnya dapat terukur namun dalam program RSBI di surabaya efisiensi dari program tersebut belum tercapai sampai saat ini.
b.      Efektifitas
Keberhasilan dari program RSBI dinilai kurang efektif dari data responden yang didapat padahal proses program RSBI sudah berjalan kurang lebih 5 tahun. Dari tujuan yang awal dibentuknya program RSBI malah bertentanggan dengan kenyataan yang ada. Bahwa program RSBI melenceng ke bisnis.
c.       Responsivitas
Kepuasan dari pihak yang seharusnya mendapatkan keuntungan dari program RSBI belum tercapai. Responsivitas tercapai apabila kriteria yang lain sudah tercapai. Namun kriteria efektifitas dan efisiensi belum tercapai jadi kriteria responsivitas juga belum tercapai.



BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

Kesimpulan yang didapat adalah pentingnya mengukur suatu program agar mengetahui keberhasilan yang didapat. Pengukuran keberhasilan suatu program dapat dilakukan dengan cara mengevaluasi suatu program tersebut.

Program Rintisan Sekolah Berstandart Internasional sendiri setelah 5 tahun dilaksanakannya ternyata belum mencapai tingkat keberhasilan malah menyimpang dari tujuan awal yang dimana seharusnya RSBI bertujuan untuk mewadahi siswa berprestasi tanpa harus dengan biaya yang tinggi malah disalah artikan dengan dilakukannya punggutan yang mahal setiap sekolahan yang berstandart internasional.




0 komentar:

Poskan Komentar